| 2010 Tahun Pembiayaan |
|
|
|
| Ditulis Oleh Administrator | |
| Wednesday, 17 March 2010 | |
Pada penghujung tahun 2009 Kementerian Koperasi dan UMKM menyelenggarakan Expo Pembiayaan Koperasi dan UMKM. Dilihat dari jumlah pengunjung dan nilai transaksi yang terjadi selama Expo, acara yang dimaksudkan sebagai penanda menyambut tahun 2010 sebagai tahun pembiayaan dan peningkatan UMKM dinilai sukses. Kementerian Negara Koperasi dan UMKM mengadakan acara ini untuk memfasilitasi bank dan lembaga keuangan non-bank memberikan informasi dan sosialisasi tentang rencana bisnis pembiayaan di tahun 2010, sehingga masyarakat dapat mengaksesnya dengan mudah. Dinamika industri dan bisnis UMKM sangat terkait dengan pembiayaan. Semakin mudah pembiayaan diakses masyarakat semakin berkembang UMKM. berikut wawancara Zubaeri At dari Majalah Tamaddun dengan Bapak Ir. Agus Muharram, Deputi Pembiayaan Kementerian Negara Koperasi dan UKM Republik Indonesia di kantornya. Tahun 2010, Kementerian Koperasi dan UKM menyebut sebagai tahun pembiayaan untuk usaha kecil dan menengah. Bisa dijelaskan program tersebut ? Expo Pembiayaan Koperasi dan UMKM yang berlangsung di bulan Desember 2009 lalu merupakan titik awal untuk menginformasikan berbagai akses pembiayaan dan produk-produk pembiayaan dari lembaga bank maupun lembaga keuangan non-bank dan koperasi yang selama ini kurang tersosialisasikan dengan baik terutama pembiayaan yang dilakukan oleh Kementerian Koperasi dan UMKM. Expo tersebut, dimanfaatkan oleh bank dan koperasi simpan pinjam baik yang syariah maupun konvensional memberikan informasi rencana penyaluran kredit dan pembiayaan. Pada saat itu (Expo 2009), dikucurkan dana kredit Rp2.137.279.640.000 rupiah. Dan dana itu akan disalurkan kepada 512 koperasi dan 18.773 UMKM, khususnya para pengusaha skala mikro dan kecil. Jadi 90% lebih itu untuk koperasi. Bahkan dalam pameran yang efektif dua hari itu, terjadi transaksi kredit/pembiayaan lebih dari 20 milyar Rupiah dari lembaga keuangan kepada UMKM. Kegiatan Expo Pembiayaan ini akan diselenggarakan setiap tahun, termasuk di 2010 ini dan juga akan diadakan Expo pembiayaan di daerah khususnya propinsi. Mengapa pembiayaan oleh Kementerian Koperasi menjadi andalan di tahun 2010 ? Berbagai studi dan penelitian di lapangan menunjukkan bahwa pembiayaan merupakan persoalan yang dominan yang dihadapi koperasi dan UMKM. Oleh karenanya Pemerintah akan menggenjot pembiayaan terutama untuk sektor mikro, kecil dan menengah baik melalui program kerjasama dan kemitraan antara pemerintah, gerakan koperasi, dunia perbankan dan swasta khususnya, BUMN. Pemerintah juga akan meningkatkan kerjasama dengan Dewan Koperasi Indonesia dan asosiasi-asosiasi bisnis seperti Kadin dan HIPMI. Kira-kira seberapa besar pembiayaan yang dibutuhkan oleh masyarakat? Kalau kebutuhan masyarakat sangat banyak. Jumlah UMKM di Indonesia 99,1% dari keseluruhan perusahaan. 98% UMKM berada di sektor mikro dan kecil. Perusahaan skala mikro ini kebanyakan bergerak di sektor perdagangan, pertanian, perkebunan, kelautan dan perikanan. Usaha mereka umumnya membutuhkan pembiayaan di bawah 10 juta Rupiah bahkan lebih banyak lagi yang di bawah 5 juta Rupiah. Dari keseluruhan UMKM 70% diantaranya potensial layak usaha. Sebagaimana yang dikatakan Dr. Nur Sutrisno bahwa “mereka itu “gurem” skalanya, belum layak perbankan (unbankable), baru 30% dari usaha mikro bankable tapi belum linkable, belum bisa akses ke bank”. Jadi kalau 20% saja dari 50 juta berarti sudah 15 juta usaha yang membutuhkan kredit mikro dari perbankan, oleh karena itu perlu dikembangkan kredit usaha rakyat. Kalau rata-rata 3 juta unit usaha setiap tahun dibantu melaui KUR, berarti dalam waktu lima tahun sudah bisa dicapai. Mudah-mudahan. Adakah dampak pemberlakuan Pasar Bebas Asia terhadap UMKM? Pasti ada, cuma kita harus pilah-pilah mana yang terpengaruh signifikan, cukup signifikan dan tidak signifikan. Yang signifikan adalah pelaku usaha di sektor menengah dan besar yang mempunyai pabrik dan kegiatan usahanya menggunakan teknologi, produknya masal, dan pasarnya lebih pada ekspor, sehingga otomatis kalau kebutuhan dasar dalam negerinya diimpor dari negara China misalnya, tentunya si pengusaha menengah tadi kesulitan memasarkannya di dalam negeri sehingga alternatifnya mereka harus mencoba ekspansi pasar tidak hanya ke China tapi ke negara lain. Yang cukup signifikan adalah para pengusaha di level menengah kecil yang pada umumnya memproduksi barang-barang yang dikonsumsi oleh menengah ke bawah seperti tekstil dan garmen, alat-alat rumah tangga dan kerajinan. Mereka yang terpengaruh signifikan maupun cukup signifikan bisa bertahan dengan strategi. Pertama, terus menggalakkan pasar domestik (dalam negeri), kemudian membuka pasar baru dengan promosi terutama kepada negara-negara yang menghendaki produk kita khususnya produk halal baik makanan maupun non-makanan. Kedua, menggalakkan bersih lingkungan. Ketiga, menggalakkan produk yang berbasis pada keanekaragaman budaya dan hayati bangsa Indonesia. Keempat, mengembangkan produk yang berstandar nasional Indonesia atau SPSNI. Kelima, melakukan promosi di negara China sendiri, agar ada keseimbangan. Nah, yang tidak signifikan adalah usaha di sektor mikro, karena telah mempunyai segmen pasar sendiri dan produknyapun lokal, pasarnyapun domestik, produk yang diproduksi untuk memenuhi kebutuhan dasar yakni skala kecil. Contohnya, makanan sehari-hari, jajanan dan alat-alat rumah tangga seperti pacul (jangkul). Kemudian juga sektor informal. Sebenarnya siapa sasaran utama program pembiayaan dari Kementerian Koperasi dan apa target yang ingin dicapai? Kami akan melakukan penguatan modal bagi usaha mikro melalui pola bantuan sosial kepada mereka yang benar-benar membutuhkan modal, yang relatif kecil di bawah Rp2 juta untuk usaha produktif sehingga dapat terhindar dari resiko sosial, yakni pengangguran dan kemiskinan. Kita akan kembangkan melalui 2.600 koperasi. Masing-masing kelompok mendapat 50 juta Rupiah. Dan untuk kelompok yang lebih tinggi lagi kita akan kembangkan program dana bergulir melalui Lembaga Pengelolaan Dana Bergulir (LPDB) UMKM. Apa kriteria-kriteria untuk mendapat pembiayaan dari Kementerian? Kriteria itu sudah ada di petunjuk teknisnya. Program bantuan yang disediakan bagi masyarakat hanya diberikan kepada mereka yang bergabung dalam sebuah koperasi yang beranggotakan minimal 25 orang. Masing-masing anggota mendapat bantuan modal maksimal dua juta Rupiah, dan dipergunakan untuk usaha kreatif. Program bantuan ini dapat diakses dengan cara mengajukan usulan ke Dinas Koperasi kabupaten/kota setempat. Sedangkan untuk penguatan modal koperasi disalurkan melalui LPDB (Lembaga Pengelola Dana Bergulir) UMKM. Besarnya modal maksimum satu milyar Rupiah. Penguatan modal untuk usaha kecil dan menengahnya juga disalurkan melalui LPDB maksimum 250 juta Rupiah. Persyaratannya ditentukan oleh LPDB. Apakah para pedagang di pasar (tradisional) dapat merasakan pembiayaan dari Kementerian Koperasi? Kementerian Koperasi juga mempunyai program itu, yakni program revitalisasi pasar tradisional yang ditangani oleh Deputi Pemasaran dan Jaringan Usaha. Tahun 2010 paling tidak 100 pasar tradisional akan direvitalisasi. Bagaimana pendapat Bapak tentang pembiayaan mikro syariah? Program-program bantuan modal maupun bantuan dana bergulir itu bisa dikembangkan dengan pola syariah. Menurut saya pola syariah akan terus meningkat, karena citra syariah itu positif. Kita tahu Republik Indonesia sebagian besar penduduknya beragama Islam. Pembiayaan syariah juga diminati banyak negara seperti Singapura dan Inggris. Pola syariah mempunyai resiko lebih kecil dibandingkan dengan konvensional. Kalau belajar dari krisis perbankan kemarin, yang bermasalah itu dari pola konvensional. Mudah-mudahan ke depan masyarakat semakin paham dan lebih senang menggunakan pola syariah. Apa yang mesti dilakukan koperasi-koperasi syariah seperti TAMZIS agar dapat meningkatkan pembiayaannya? Setiap koperasi harus mempunyai visi terutama sehat, kuat dan dapat dipercaya. Sehat artinya lembaga mikro ini mempunyai standar akuntansi yang jelas, badan hukum yang jelas dan juga pola pengawasan yang jelas. Kuat artinya dibangun atas dasar likuiditas yang kuat. Dipercaya artinya sebagai lembaga bisnis, kepercayaan adalah modal utama untuk berusaha. Nabi Muhammad dan Siti Khotijah saja bisa berbisnis dan besar karena beliau dijuluki dengan Al-Amin (dapat dipercaya). Jadi visi sehat, kuat dan terpercaya itu harus dipegang secara utuh oleh lembaga keuangan syariah termasuk TAMZIS. Pemerintah sedang memikirkan pembentukan lembaga penjamin simpanan bagi koperasi (Semacam LPS bagi perbankan). Dengan demikian masyarakat merasa aman menitipkan dananya di koperasi, sehingga akan meningkatkan struktur modal koperasi dan memperkuat likuiditas. Untuk meningkatkan sektor mikro selain pembiayaan, juga harus dilakukan pendampingan dengan memberikan kemampuan teknis dan manajerial usaha sehingga pembiayaan yang diberikan bisa optimal, terutama dalam hal pengelolaan keuangannya dan memasarkan produknya. Jadi pendampingan itu mutlak untuk pengembangan usaha mikro. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
| Pelatihan Khotbah Jum’at “Menebar Manfaat Melalui Ekonomi Syariah” |
|
Wonosobo, 10 April 2010. Baituttamwil TAMZIS melalui TAMZIS Social Responsibility (TSR) Tamaddun mengadakan pelatihan Khotbah Jum’at dengan tema “ Menebar manfaat dengan khotbah Jum’at” yang berlangsung selama sehari penuh, bertempat di Resto Ongklok Wonosobo. |
|
| Selengkapnya... |






Pada penghujung tahun 2009 Kementerian Koperasi dan UMKM menyelenggarakan Expo Pembiayaan Koperasi dan UMKM. Dilihat dari jumlah pengunjung dan nilai transaksi yang terjadi selama Expo, acara yang dimaksudkan sebagai penanda menyambut tahun 2010 sebagai tahun pembiayaan dan peningkatan UMKM dinilai sukses. Kementerian Negara Koperasi dan UMKM mengadakan acara ini untuk memfasilitasi bank dan lembaga keuangan non-bank memberikan informasi dan sosialisasi tentang rencana bisnis pembiayaan di tahun 2010, sehingga masyarakat dapat mengaksesnya dengan mudah. 