| Pembeli Pasar Tidak Hilang |
|
|
|
| Ditulis Oleh Administrator | |
| Thursday, 05 November 2009 | |
Prof Dr Heddy Shri Ahimsa Putra MA, Mphil. (Guru Besar Ilmu Budaya UGM)Data dari Asosiasi Pedagang Pasar menyatakan bahwa pada tahun 2007 jumlah total pedagang pasar terdapat sebanyak 12.625.000 pedagang, namun pada akhir tahun 2008 tercatat tinggal 11.000.000 pedagang saja. Sehingga total selama jangka waktu hanya setahun, sebanyak 1.625.000 pedagang yang gulung tikar.
Maka dapat disimpulkan mengapa pedagang pasar banyak yang gulung tikar dari tahun ketahun disebabkan menurunnya masyarakat yang berbelanja dipasar, kalapun pertanyaan tersebut dilanjutkan mengapa masyarakat tidak suka berbelanja dipasar, bisa dipastikan masyarakat masih lebih memilih pasar modern dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Lalu bagaimana mengajak masyarakat akan kembali di pasar ?. Ini tangung jawab kita bersama. agar sendi-sendi perekonomian masyarakat tetap kokoh ketika banyak masyarakat belanja kepada pedagang kecil di pasar. Berikut Berikut petikan wawancara Zubair AT dengan Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra, MA., M.phil., Guru Besar Ilmu Budaya UGM dan juga anggota Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta di kantornya. Kita ingin melihat satu persoalan secara jernih, dalam kaitan dengan sejarah pembeli yang enggan berbelanja di pasar. Bapak sebagai anggota Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) DIY kira-kira bagaimana? Bicara pasar, tidak lepas dari munculnya supermarket, swalayan dan mall. Hal itu merupakan pilihan yang baru. Kalau dulu, ambil contoh pasar Kranggan dan Bringharjo Jogjakarta, orang tidak punya pilihan lain untuk belanja hanya pembandingnya besar dan kecil, pasar kota dan pasar desa. Kalau pasar besar buka setiap hari dan terbuka, sedang pasar kecil tidak buka setiap hari hanya ketika pasaran saja seperti Wage, Pon, Pahing dan seterusnya. Tapi ketika muncul supermarket, swalayan atau mall, masyarakat sudah punya pembanding. tidak lagi pada kecil atau besar tapi kualitas, pelayanannya, melihat tempat, lokasi. Pasar itu juga tidak hanya berkaitan dengan pembelian saja tapi juga berkaitan dengan modernitas. Ciri Modernitas tersebut berkaitan dengan gaya hidup. Disinilah pasar mempunyai saingan yang berat. Pertama, dipasar modern cepat, karena tidak ada tawar-menawar, harga sudah jelas dan kualitas sudah pasti lebih. Nah, Dari perbandingan yang terlalu jauh tersebut antara pasar dan Supermarket, swalayan atau Mall, bagaimana mengajak pembeli secara kesadaran untuk belanja ke pasar ? Kalau ingin bersaing dengan supermarket, swalayan dan mall, kita harus melihat dari perbandingan tersebut maka pasar harus melakukan pembaruan-pembaruan, terutama soal tempat. Seperti pasar Lempuyangan dan Bringharjo Jogkarta. Pembeli ketika akan berbelanja ke pasar pertama kali akan melihat bersih atau tidak bersih. Sedang supermarket, swalayan dan mall lebih bersih dan terang. Kedua, keamanan. Tiga, harga. Harus mampu bersaing. Meskipun begitu, pasar tetap mempunyai pembeli, persoalannya menurun atau tidak. Pembeli bisa saja ditingkatkan, kalau lokasi pasar bisa ditingkatkan kebersihannya. Saya adalah anggota tim Budpar (Kebudayaan dan Pariwisata) yang menggarap pasar, kedepan keinginannya mengusulkan adanya peraturan atau Undang-undang yang melindungi pasar, berkaitan dengan jarak berapa radius boleh tidaknya dibangun supermarket, swalayan ataupun mall sampai kesana, dan juga berkaitan dengan tata letak ruang kota. Untuk itu kita akan sosialisasikan keseluruh kabupaten di Indonesia serta kerja sama dengan Departemen Perdagangan. Realitasnya seperti itu secara perbandingan, lagi-lagi bagaimana mengembalikan pembeli ke pasar ? Sebenarnya tidak sepenuhnya hilang, buktinya mereka masih bertahan, memang ada penurunan. Tapi soal jarak saja. Kalau ada supermarket, swalayan dan mall di dekat pasar tentunya akan ”rontok” pembelinya. Ini soal bagaimana pedagangnya saja. Kedua, ada barang yang hanya dijual di pasar tidak di supermarket dan mall seperti jamu-jamuan. Selain itu, pasar tetap mempunyai nuansa yang berbeda. Makanya pasar harus dibuat lebih baik tata letaknya, lebih aman, lebih terang dan kualitas barangnya juga harus terjaga. Kalau diprosentasikan antara pasar dengan Supermarket, swalayan atau Mall berapa Pak? Saya tidak berani mengatakan, karena belum ada riset mengenai hal itu. Pasar tradisional itu munculnya spontan, adanya pasar modern tidak selalu membuat pasar-pasar spontan itu hilang. Seperti pasar dekat rumah saya. Contoh lain, di Jakarta yang dulu tidak ada, sekarang pagi-pagi sudah ada pasar yang dibuka secara spontan. Jadi tidak hilang. Jadi pedagang keliling itu dapat membantu pendapatan pasar ? Iya. Mereka tidak mungkin bisa belanja di swalayan. Karena swalayan tidak melayani pedagang eceran dan buka subuh-subuh. Pasar buka sejak subuh karena terbuka dan tidak perlu ada yang buka, memang, tidak ada pintunya. Ha...ha... sambil tertawa. Itu luar biasa dan itu kemenangan pasar. Secara budaya, salah satunya life style dan pandangan hidup mereka yang lebih senang belanja di Supermarket, swalayan atau Mall ? kira-kira apa yang mempengaruhi mereka Pak? Ya citra (prestise) itu sendiri. Yakni citra modern. Dan menurut saya, mereka tidak sering-sering amat ke supermarket, swalayan dan mall. Bisa saja nanti akan kembali kalau sudah bosan, karena mereka kesana hanya ingin melihat-lihat, mencoba-coba saja. Lalu mereka berpikir dan mengucapkan ”alah... Supermarket, swalayan dan Mall itu begitu-begitu saja”. Kembali soal pasar modern, pasar modern itu bisa tumbuh untuk memenuhi kebutuhan kelas-kelas tertentu, yang memang kalau mereka belanja di pasar tidak nyaman. Bukan persoalan gaya hidup, tapi karena tidak suka lingkungan seperti itu saja. Orang-orang itu bisa ditampung ke pasar yang telah bersih seperti Pasar Bumi Serpong Damai (BSD) Jakarta, tetapi tetap berbeda dengan makro dan swalayan yang ada. Pihak TAMZIS Pernah mengadakan study banding pedagang pasar Kertek Wonosobo ke pasar Bumi Serpong Damai (BSD) Jakarta yang dikemas secara modern, tapi ketika kembali belum bisa mengajak pedagang yang lain untuk menciptakan lingkungan pasar bersih, itu bagaimana Pak? Masalah tidak sekedar pedagang, tapi juga PEMDA. Karena mereka (Pemda) yang mempunyai wewenang mengelola pasar tersebut. Seperti di Solo, Wali kotanya yang turun, tidak cukup hanya sesama pedagang. Pedagang sendiri organisasinya tidak solid. dan butuh perencanaan yang panjang. Pedagang sudah sibuk dengan dagangannya, masak disuruh berpikir arsitektur pasar, sangat susah. Makanya menurut saya, PEMDA Kota dan Pemda Kabupaten harus ikut serta membuat kebijakan untuk melindungi pasar. Seperti kebijakan Bupati Bantul yang berpihak kepada pasar dan melarang pendirian mall. Itu bagus sekali, dan saya sangat mendukung dari pada buat Mall. Kita dari TAMZIS yang merupakan Lembaga Keuangan Syariah yang konsentrasinya ke pasar. Menurut Bapak bagaimana ikut andil dalam mengembangkan pasar? Mereka butuh kredit, tapi kredit ini sebaiknya jangat terlalu berat. Dan mereka kalau bayar tepat waktu. Saya tahu karakter para pedagang itu takut akan hutang. Persoalannya, apakah ada yang datang satu persatu menjemput kepada mereka? Kalau ada, pasti bisa jalan. Seperti yang dilakukan Muhammad Yunus dengan Grameen Bank-nya di Banglades. Kita sudah menjalankan hal itu, tapi bagaimana ikut meningkatkan laba pedagang pasar tersebut? Berkaitan dengan pasar, lembaga BMT-nya mungkin bisa mengajukan saran kepada PEMDA atau kerjasama dengan PEMDA meningkatkan kualitas pasar seperti bangunannya, cara pengelola dan cara meningkatkan pembelinya. Terus, bisa jadi juga, sebagian dana laba BMT-nya dikembalikan kepada pasar untuk membangun pasar, dengan begitu dapat sinergi antara pedagang, BMT-nya dan Pemda akan semakin bagus. Ini mungkin yang bisa dilakukan. Dalam Islam, ajaran apa yang harus di miliki dan dipegang teguh oleh seorang pedagang pasar Pak? Sangat mudah yakni kejujuran. Pasar itu sangat memungkinkan untuk menipu. Nah, kejujuran pedagang itu harus ditingkatkan. Kalau barang rusak dan busuk harus bilang. Kebanyakan tidak mau. Berbeda supermarket, swalayan atau mall, barang yang masuk sudah terseleksi dan orang tidak usah menawar lagi karena sudah yakin akan kualitas barang yang dijual. Dan kalau tidak puas orang tersebut bisa komplain. Yang harus ditingkatkan adalah kesadaran pedagang pasar untuk bersikap jujur, menyangkut harga dan timbangan. Semua itu ada dalam agama. Banyak pedagang menjual barang yang atasnya bagus, bawahnya buruk. Makanya pedagang harus dapat menjaga kepercayaan pembeli. Pembeli itu mencari murah dan kualitas bagus, kalau itu bisa dilakukan oleh pedagang pasar, saya kira pembeli akan selalu datang. Terakhir, apa kira-kira kata kunci agar pembeli senang berbelanja di pasar? Kalau kata kuncinya tergantung pada beberapa hal. Untuk pedagangnya kata kuncinya adalah kejujuran dan pelayanan serta keramahan. Untuk Barangnya harus berkualitas dan murah. Sedang untuk lingkungannya adalah bersih dan aman. Jadi kata kuncinya bermacam-macam tergantung apanya. Kalau itu sudah dilakukan oleh para pedagang Insya Allah pembeli akan datang. Itu menurut saya. Pak Heddy Sambil tertawa. [zbr] |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
| TAMZIS Peduli “Pasar sehat bebas flu burung” |
|
Jogjakarta, Pertengahan April 2010 lalu, bertempat di pasar Bringharjo dan pasar Gamping Jogjakarta, berlangsung aksi bersama penanggulangan flu burung. Kegiatan ini diprakarsai oleh TPFB (Tim Penangulangan Flu Burung) Muhammadiyah Jogjakarta yang mengangkat tema “Pasar Sehat Bebas Flu Burung”. |
|
| Selengkapnya... |






Prof Dr Heddy Shri Ahimsa Putra MA, Mphil. (Guru Besar Ilmu Budaya UGM)