FRIENDLINESS

    Dibaca 770 kali


Tanggung jawab utama sebagai seorang muslim adalah beramal baik dan menjauhkan diri dari perbuatan buruk. Dalam istilah Al Qur’an “Amar ma’ruf, Nahi munkar”.

Terkait Amar ma’ruf, Al Qur’an juga memiliki empat penjelasan, yakni ma’ruf, khair, khasanat dan amalun sholih. Oleh karena itu, kita harus mengetahui bahwa khair, ma’ruf, ihsan, dan sholeh memiliki makna yang mengandung kebaikan. Walaupun dalam penerapan dan motifnya mempunyai konteks berbeda-beda.

Misalnya, makna khair memiliki makna kebaikan yang bersifat anjuran dan universal. Jadi semua hal yang dilakukan oleh manusia, tidak memandang sisi agama, untuk menganjurkan orang lain melaksanakan kebaikan, itu khair. Baik.

Ma’ruf adalah kebaikan yang sudah menjadi aturan (norma), sehingga diwujudkan, dibakukan, dan ditegaskan dalam bentuk peraturan, regulasi, undang-undang, dan lain-lain. Dalam Islam disebut dengan hukum syariah. Dan ma’ruf itu sendiri diperintahkan, bukan dianjurkan. Jelas beda dengan khair.

Sedang ihsan adalah kebaikan yang dikerjakan, meskipun sebenarnya tidak wajib. Kebaikan ihsan ini dalam sebuah perusahaan disebut dengan value add (nilai tambah) yang diberikan kepada perusahaan kepada anggota. Sehingga anggota merasa puas terhadap pelayanan. Meski tidak terkait langsung dengan kepentingan (interaksi transaksi).

Dan terakhir, adalah sholeh. Yakni kebaikan yang sudah diamalkan dan terbukti terterapkan dengan baik. Sholeh adalah kebaikan yang sangat minimal kontraproduktifnya, karena sudah diperhitungkan berbagai sisi dan keterkaitannya dengan faktor-faktor atau konteks-konteks lain.

Dalam tulisan ini saya akan menjelaskan cukup dua makna saja.  Pertama, ma’ruf dalam artian urf. Yang sering dimaknai adat istiadat. Seperti menunduk ketika melewati orang tua. Mencium tangan kepada orang tua dan sebagainya. Tapi ada juga adat istiadat yang bertentangan dengan ajaran Islam, misalnya, sedekah laut yang dibarengi dengan pesta-pesta mabuk.

Sedang ma’ruf sendiri memiliki arti mengetahui, mengenal atau mengakui, melihat dengan tajam atau mengenali perbedaan. Makanya, orang yang ma’ruf sering disebut orang arif (bijaksana) karena mengetahui waktu dan tempat (Jawa; empan-papan).

Kedua, ma’ruf bisa bermakna khair (baik). Yakni kebaikan yang hanya bisa dirasakan oleh pribadi orang yang sedang mengerjakan kebaikan. Khair memiliki makna yang berkonotasi pada akhlak (moral) sebagaimana hadits berikut ini;

Hadis dari Nawwas bin Sam’an, dia bertanya pada Rasulullah tentang “al birru” dan “al itsmu”, Rasulullah SAW menjawab: “Al birru adalah akhlak yang baik” dan “al  itsm” adalah perbuatan yang mengganjal dalam hatimu, dan kamu tidak mau perbuatan tersebut diketahui orang lain. [HR. Ahmad dan Muslim].

Impact (efeknya) perbuatan ma’ruf bagi manusia harus bisa mencegah dari mudharat (kerusakan) daripada kemungkaran. Oleh karena itu, setiap manusia harus bisa membuat kebiasaan (urf) yang baik dalam kesehariannya.

Sedangkan, nahi munkar itu jelas. Yakni melarang manusia untuk berbuat yang dilarang oleh Allah. Jelas sekali. Karena yang dilarang oleh Allah itu pastilah hal-hal yang bisa mendatangkan kerusakan bagi diri sendiri, orang lain dan lingkungan.

Hal itu menunjukkan bahwa setiap orang butuh berkumpul. Berjama’ah. Karena seseorang tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Satu dengan yang lain harus saling mengisi dan saling memberi. Contoh kecil saja, setiap hari kita bisa makan nasi. Coba bayangkan, beras atau nasi yang ada dalam piring kita itu dari petani. Tempe atau tahu dari pembuatnya. Kubis, lombok, tomat dari petani. Ikan dari nelayan. Dan seterusnya.

Itu artinya, setiap manusia harus saling melengkapi satu sama lainnya. Itulah yang disebut jama’ah (friendliness). Saling kerja sama dan saling memberi manfaat. Di TAMZIS, masing-masing dari kita memiliki tugas dan kewajiban masing-masing. Ada Office Boy (OB), Security, Marketing dan Admin, IT dan lain sebagainya. Semua harus bisa saling kerjasama.

Yang harus kita ketahui bersama, adalah berjama’ah itu akan berjalan baik bila memenuhi syarat utamanya yakni musyawarah. Dan musyawarah itu pondasinya tak lain adalah rohmah (kasih sayang). Sekarang, betapa banyak dalam jama’ah swasta maupun pemerintah yang menjalankan aturan berdasarkan kebijakan. Padahal kebijakan itu lebih memihak kepada kepentingan. Dan yang sering membuat ketentuan tersebut berasal dari pejabat tingkat atas.

Betapa manusia sering berada dalam kondisi bingung. Maka berfatwalah pada hatimu. Mana yang haq dan mana yang bathil. Karena keduanya jelas dan nyata. Dan sikap friendliness dalam diri manusia ini akan mampu membimbing hati manusia untuk lebih bening dalam memberi fatwa (dorongan kuat) dalam setiap kebaikan. Hati yang baik pasti mempunyai kesadaran bahwa kebaikan akan menghilangkan keburukan dalam keidupannya. []


Artikel Terkait

20 Tahun TAMZIS Membawa Kebahagiaan
    tmz
  • December 19, 2016

Ketika tulisan ini dibuat keluarga besar TAMZIS sedang diliputi kebahagiaan. Hal ini karena pada tanggal 22 Juli 2012 ke ...

Ekonomi keluarga
    tmz
  • December 19, 2016

Dalam suatu sesi pelatihan, dibuatlah dua kelompok kartu, yang satu berisi kebutuhan-kebutuhan diri. Seperti mengejar di ...

Manajemen Keuangan Keluarga
    tmz
  • December 19, 2016

Beberapa minggu lalu, saya diberi kesempatan mengisi materi pada pengajian rutin minggu pagi “Keluarga Sakinah” di M ...

Oleh-Oleh Ilmu dari Singapura
    tmz
  • December 19, 2016

Beberapa hari lalu, alhamdulillah beserta rombongan 150 menejer dan pengurus BMT-BMT anggota Perhimpunan BMT Indonesia, ...

Mainstreaming Islamic Microfinance
    tmz
  • December 19, 2016

Berkaitan dengan istilah Mainstreaming Islamic Microfinance, istilah itu sendiri kami definisikan sebagai suatu upaya ya ...