Membangun Sharing Economy Berbasis Masjid

    Dibaca 65 kali


Oleh: Valentiono Dinsi

 

Membangun dan memperkuat komunitas di era revolusi teknologi lebih tepatnya di era revolusi digital, merupakan keharusan bagi kita. Karena sebabnya semua sudah digital. Otomatis yang tidak mau mengikuti dan berubah akan ketinggalan zaman. Beberapa waktu lalu, kita juga di Bali mengadakan Rakernas pimpinan JPMI (Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia) dengan tema business distruption yang sekarang sedang ramai di dunia, hadir pembicaranya yang luar biasa Rhenald Kasali, Ibu Nur Haiti Subaka, Mantan Menteri dan Wakil Gurbenur, Deputi Menteri UMKM serta Dr. Daud Bakar, konsultan dan international speaker dari Malaysia.

Sudah sejak tiga tahun yang lalu saya bicara tentang masjid mandiri. Kemudian, 13 tahun yang lalu saya sudah bicara tentang membangun ekonomi ummat. Saya juga berbicara tentang membangun ekonomi berbasis masjid. Orang saat itu tidak percaya, kenapa masjid, tidak ada yang berpikir tentang itu. Alhamdulillah bukunya sudah jadi, isinya cuma ada 4, pertama, bagaimana memposisikan masjid sebagaimana fungsi masjid di zaman Rasulullah Saw., ada 14 fungsi masjid, yang kedua adalah contoh-contoh masjid dengan standarisasi ISO 91, di Indonesia ini baru ada dua, masjid Al Akbar di Surabaya dan masjid Al Ikhlas di Padang. Tapi sekarang semua ikut-ikutan ingin ISO, mahal biayanya, 250 juta sampai milyaran, disini saya tulis panduannya jadi teman-teman yang mengurus masjid tidak usah pakai ratusan juta, copy saja tiru saja apa yang sudah dilakukan dua masjid ini.

Yang ketiga adalah contoh bisnis-bisnis yang bisa dipraktekkan di masjid-masjid diseluruh Indonesia. Hal ini saya riset 7 bulan, ada 12 bisnis yang bisa dijalankan di dalam masjid, selama inikan tahunya zakat, infaq, shodaqoh, wakaf, apalagi? Sekolah, apalagi? Buat perkawinan, apalagi? Susah nyebutnya ya, ternyata ada 12 bisnis. Kita bisa tiru, oh ternyata masjid kita bisa untuk menuntut ilmu, oh ternyata bisa untuk tempat wedding, dengan panduan ini maka insyaAllah teman-teman pengurus masjid atau masjid itu bisa ikut dengan model-model ekonomi.

Berikutnya, langkah demi langkah membangun ekonomi berbasis masjid. Saya buat langkah-langkahnya termasuk dalam manajemen modern yang namanya misi model kanvas dengan model yang dikembangkan sendiri. Terakhir ada history, kurang lebih ada 400 masjid, masjid yang kaya di Indonesia. Saya membuat ini karena memang tuntutan agar ketika kita ingin masuk ke masjid tidak salah paham karena adanya perbedaan-perbedaan.

Hal ini sebagaimana ayat al-Qur’an QS. Al-Hujurat ayat 13 yang Artinya; “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Maksudnya, bahwa perbedaan suku, bangsa, kelompok, berbagai macam jenis merknya, berbagai macam jenis organisasinya, itu keniscayaan.  Tetapi orang Indonesia, orang Islam agak kurang paham lanjutan ayat itu, mereka merasa kalo organisasinya paling hebat, saya yang paling hebat, jadi ada organisasi bisnis, organisasi wirausaha banyak sekali di Indonesia, tapi mereka tidak bisa bersatu, mereka masing-masing merasa yang paling hebat,  mereka malah merasa tidak mau, oh dia kan anggota itu, oh dia kan anggota ini. Jadi masing-masing terpisah-pisah, itulah sebabnya mengapa umat Islam tidak bisa maju, karena mereka lupa lanjutannya itu adalah lita’arofu untuk saling bersinergi, sinergitas itulah yang dapat membuat umat ini besar.

Kami merencanakan untuk keliling memaparkan tentang ide gagasan ini, apa yang kami lakukan. Makanya saya ketua DEMI (Dewan Ekonomi Masjid Indonesia). Hal ini karena sayamelihat ada sisi kosong, coba Anda perhatikan, saya  melontarkan gagasan  membangun ekonomi umat kemudian saya menyiapkan instrumennya, instrument untuk masuk ke masjidnya. Kemudian saya harus membuat kendaraannya, namanya DEMI, karena saya tidak bisa masuk dengan TDA (Tangan Di Atas), Gen Pro atau yang lainnya. Oleh karena itu kita bikin sebuah institusional dimana semua masuk, makanya bikinlah DEMI, Gen Pro merapat, JPMI merapat, Muhamadiyah merapat, NU merapat, dan memang kita rangkul mereka, ayo jadi pembina, jadi pengurus, jadi anggota, jadi institusional, bicara tentang apa? Masjid.

Ketika bicara masjid tidak ada khilafiyah, bayangkan disinilah ternyata bahwa ide gagasan yang kuat itu bisa menyatukan semua. Jadi ketika gagasan itu kita lontarkan dan orang merasakan apa yang kita lontarkan itu maka orang mencari kita tapi dengan satu prinsip, jaga keikhlasan, bukan kita ingin terkenal dan juga bukan sekedar motif ekonomi.

 

Sharing Economy

Selanjutnya perjalanan saya tentang masjid. Mengapa masjid? Tidak ada satu orangpun waktu saya ngomong tentang masjid 3 tahun yang lalu yakin tentang itu, kenapa? Kita tahu masjid kita seperti apa. Kenapa saya memikirkan masjid, kenapa saya ingin ekonomi hadir di masjid. Alasan saya pertama, saya berjumpa hadits Nabi Muhammad Saw., yang mengatakan ada 7 golongan yang akan mendapat naungan dari Allah SWT kelak di akhirat dimana pada saat itu tidak ada naungan kecuali dari Allah SWT. Salah satunya yang nomor 3 diberikan kepada orang-orang yang terikat hatinya dengan masjid. Orang-orang yang peduli dengan masjid siapa mereka? Pengurus masjid, mereka marbot masjid, jamaah yang sholat di masjid, yang suka hadir pengajian di masjid, dan semoga termasuk saya yang menulis buku, berbicara bagaimana menumbuhkan ekonomi umat di masjid. Mereka itulah orang-orang yang layak mendapatkan naungan dari Allah SWT.

Yang kedua Rasulallah Saw., memulainya dari masjid. Jadi kalau umat ini ingin maju umat ini ingin jaya back to masjid, tidak ada pilihan. Yang ketiga, jumlah masjid menurut Dewan Masjid hari ini 1,3 juta masjid yang terdaftar. Kalau dengan yang tidak terdaftar sekitar 2,6 juta. Artinya, kita tahu jumlah ini besar sekali dan punya potensi luar biasa, ini tidak main-main, saya melihat yang orang lain tidak lihat.

Yang keempat, jumlah penduduk muslim di Indonesia ada 226,7 juta jumlah mereka baru sebagai konsumen, sebagai pasar belum sebagai owner, belum sebagai produsen dan inilah masalahnya. Tiba-tiba tahun lalu terjadi peristiwa besar yang belum tentu terjadi 20 tahun lagi, yakni 212. Peristiwa besar yang merupakan titik demokrasi terbesar dalam sejarah umat manusia dan siapapun yang hadir adalah suara jamaah terbanyak dalam sejarah umat manusia. Setelah itu masjid kita menjadi lain, setelah peristiwa ini umat Islam Indonesia menjadi lain.

Saya ketemu dengan orang bawah, bertemu dengan kelas menengah para eksekutif, para direktur, para vice president, para konglomerat, para pengusaha, saya bertemu dengan para anggota dewan, menteri, pejabat publik, gubernur, walikota, macam-macam kita semua sepakat peristiwa ini adalah momentum besar kebangkitan umat Islam. Tapi pertanyaannya bagaimana menjadikan momentum itu betul-betul menjadi kenyataan? Bagaimana mengubah energi kerumunan ini menjadi energi kinetik menjadi nyata menjadi gerak menjadi berhasil, kalo kita gagal maka ini cuma jadi gambar, jadi foto, jadi video jadi novel dan jadi film layar lebar tahun depan, kita tidak dapat apa-apa.

Saya berfikir bagaimana memunculkan ide gagasan. Saya mencoba cari model, model apa yang paling cocok dengan umat saat ini,  bertemulah dengan model sharing ecomonic atau ekonomi berbagi. Apa itu sharing economy atau ekonomi berbagi, contohnya sekarang, grab, uber, dan gojek adalah model sharing economy dan ini adalah revolusi teknologi yang telah mendistrupsi, merubah semua.

Tiba-tiba saja seluruh dunia gempar karena kenapa tiba-tiba ada taxi yang tidak kelihatan tapi ada di jalan dan tidak ada tulisannya, itulah yang namanya uber, yang namanya go car, yang namanya grab to car. Dengan aplikasi, kita cukup tik-tik  gojeknya datang dalam dua menit biayanya sudah jelas. Sharing economy telah menciptakan value nilai lebih cepat lebih murah lebih mudah. Anda harus berpikir seperti itu, harus berpikir bagaimana cara TAMZIS ini lebih cepat lebih murah lebih mudah bagaimana TAMZIS menciptakan value di mata customer.

Sharing economy adalah sikap partisipasi dalam kegiatan ekonomi yang menciptakan value, kemandirian, dan kesejahteraan. Sharing economy menciptakan kemandirian dan kesejahteraan. TAMZIS sebagai pengelola, deposannya sebagai yang naruh uanganya. Begiktu juga uber dan grab sebagai pemilik aplikasinya yang nyupir yang punya mobilnya adalah yang bagiannya, kemudian konsumen menikmati, itu semua berbagi hasil. Jadi semua harus berpikir seperti itu sehingga produk-produk yang dihasilkan adalah produk-produk yang bisa memberikan value present. Yang menciptakan kesejahteraan bersama, saling percaya adalah prinsipnya dan sesungguhnya itu adalah inti dari ekonomi syariah.

Oleh karenanya kemudian, saya membuat sebuah definisi baru tentang ekonomi syariah, bahwa ekonomi syariah tidak hanya dipahami ekonomi yang dijalankan berdasarkan ajaran Islam, ekonomi yang berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah ini terlalu dangkal.

 

Business Base Community

Kita mart yang saya dirikan bukanlah ritel, salah total, salah besar kalo saya mau membuat ritel, kenapa? Dengan rumus apapun kalau hari ini kita berbisnis ritel pasti, dan pasti kalah dengan dua ritel terbesar yang kita kenal, kenapa? Mereka berdua itu dengan anak-anaknya mereka umurnya sudah lebih dari 30 tahun, jumlah mereka ada 77 ribu, duitnya ratusan triliyun. Dari hulu, tengah-tengah hingga hilirnya mereka punya.  Jadi pakai rumus apapun tidak mungkin menang, disinilah perlunya Allah SWT, kita bisa menang karena kita punya Allah, nah ini yang ingin saya sampaikan.

Saya mohon kepada Allah agar diberi petunjuk, Allah memberi saya satu hikmah, satu kejadian yang saya melihat yang orang lain tidak melihat. Itu peristiwa besar yang cuma bagi orang fenomena, bagi saya sesuatu yang besar. Apa itu? Kasus boikot satu merk roti terkenal. Ketika orang tersakiti oleh merk roti tersebut, maka mereka beramai-ramai memboikot produk tersebut. Waktu 2 minggu roti itu klepek-klepek, betul ya? Kenapa, karena kita punya apa, satu, kita punya numbers jumlah yang banyak itu 226,7 juta. Dua, kita punya spiritual adn emotional bonding, kita punya hubungan spiritual dan emosional umat Islam. Tiga, ternyata umat Islam masih mendengarkan kata ulama, kata habib, kata ustadz. Ini kekuatan, kekuatan inilah yang harus kita rumuskan harus kita merubah menjadi something happen inilah kita mart.

Lalu apa bedanya kita mart dengan mart yang lain? Yang pertama kita mart itu no entribte kalau orang mau buka minimarket modalnya paling tidak 700 juta Rupiah sampai 1 milyar Rupiah. Tapi kalau kita mart 150 juta bisa buka kita mart, tidak punya uang, patungan 150 orang, patungan 200 orang, kalau tidak bisa, patungan 1.000 orang.

Yang kedua tidak ada royalty fee. Merk itu didaftarkan atas nama saya dan saya wakafkan merknya untuk umat, tapi kalau umat mau pakai izin dulu dengan teman-teman yang mengelola kita mart. Yang ketiga, organisasi bisnis maksudnya begini, tadi saya bilang, bisnis itu punya aturan, kalau ada yang datang mau buka kita mart kita survei dulu, ada 37 kriteria untuk membuka kita mart. Letaknya strategis atau tidak, jumlah penduduk ada berapa, bank ada berapa, atm ada berapa, sekolah ada berapa, kantor ada berapa dan seterusnya.  

Yang keempat, yang menjadi ciri khas yang sebetulnya, yang saya sebut dengan business base community. Kita mart pertama dibuka, pemiliknya satu orang jamaah saya, orang kaya, punya ruko banyak, punya properti banyak, duitnya tidak tahu berapa ratus milyar. Setelah itu orang berlomba-lomba ingin membuka kita mart. Tapi bukan itu yang saya mau, yang saya mau adalah kita mart dimilki syirkah komunitas, maka dibuka kita mart yang kedua. Didirikan oleh 576 jamaah yang terdiri dari 76 masjid dan mushola.  Ini kita mart, terjepit diantara dua minimarket besar, yang terkini adalah omset kita mart 2 kali lebih besar dibanding minimarket yang sudah ada. Kenapa? Karena ada 576 orang pemilik, kalau ditanya, kita mart punya siapa? Punya kita ustadz, siapa yang harus belanja, kita juga, siapa yang harus ngisi, kita juga, siapa yang harus mempromosikan ke masyarakat kita juga. Jadi 4 fungsi, sebagai konsumen, sebagai pemilik, sebagai marketer, sebagai produsen. Kalau Anda  tidak beli, bangkrut. Inilah fungsinya community base merupakan kekuatan. Selanjutnya gunakan ustadz-ustadzah, ulama sebagai endorse kita, gunakan ini sebagai corong berbicara.

Jadi fungsi dari community base ini, ikatan ekonomi adalah ikatan yang paling lemah, ikatan bendawi adalah ikatan yang paling lemah. Saya sadar ini, kalau bisnis ini untung ribut tidak? Ribut. Kalo rugi apalagi. Makanya tidak boleh ikatan semata-mata ikatan ekonomi materialistik, ikatan uang. Namun, kita mart berhasil. Tapi jangan berhenti sampai disitu, makanya kita harus bikin ikatan kedua, spiritual. Laporan kita mart dilakukan setiap bulan di masjid. Sebelum laporan kita mart taklim dulu pengajian dulu baca Al-Qur’an, baca Hadits dulu diikat dengan spiritual, setelah itu baru laporan keuangan. Jadi ikatan pertama adalah ikatan ekonomi kedua adalah ikatan spiritual, ketiga adalah ikatan personality development atau pengembangan diri.

Kaitannya dengan personality development. Anggota kita mart itu misalnya rata-rata 400 orang, kalo 400 orang tidak dibina dan dikelola, maka community developmennya turun. Tapi begitu dia jadi anggota kita mart, alhamdulillah, semua komitmen dengan kita mart, kita mart jadi untung. Sebulan kita taruh di kita mart 1 juta kami dapat 4% lebih tinggi dari bank. “Alhamdulillah sejak gabung kita mart saya jadi tahu tentang Al-Qur’an dan Sunnah, saya hidup sesuai Sunnah, saya jadi tambah tenang hati saya” itu kata ibu-ibu anggota kita mart. Alhamdulillah, mereka jadi pintar masak, nanti biar diadakan ibu-ibu yang pintar masak, masak, yang senang fashion, yang anak-anak muda kita ajarkan digital marketing. Ini personality development, kita harus tahu anggota kita ini apa yang harus dikembangkan.

Selanjutnya, ajaklah lembaga zakat, infaq, shodaqoh, wakaf, dan komunitas entrepreneur dan kita satukan, kita kumpulkan. Bagi dong ilmunya. Nanti silahkan kembalian kita mart dibulatkan lalu didonasikan untul kegiatan sosial. Misalnya, dengan aplikasi kita peduli dan kita wakaf.

Kita mart nilainya berapa, orang mengira saya bikin ritel, bukan. Saya bikin yang namanya bisnis ekosistem, kalau ritel sudah kalah perang. Ketika saya bikin bisnis ekosistem, luar biasa, jadi kita mart itu penghasilan pertama adalah dari hasil jual ritel. Dalam kita mart ada apa? ada PPOB, ada umroh, ada cargo, ada apa lagi, ada BMTnya, ada 10 macam. Saya akan bikin 10 bisnis didalam kita mart, ini chanel, dia ini ekosistem. Makanya, saya ganti kita mart itu semua yang nomor satu, ritelnya trans mart, bank nya bank syariah, teknologi Telkom, semua yang nomor satu, sehingga kalau kalah satu, masih punya sembilan.

Hal itu yang namanya ekosistem dan orang ketika bicara tentang kita mart orang anggap remeh, tidak saya bilang. Kemarin saya sampaikan target kami dalam 15 tahun sampai 2030 paling tidak, 100.000 kita mart, apakah saya bermimipi? Tidak, masjid itu ada 2,6 juta, saya hanya perlu 100.000 masjid saja. Saya sudah punya tiketnya, saya akan cari 100.000 masjid 100.000 komunitas dan sekarang bukan cuma masjid, ada mushola, ada kantor, ada pesantren, ada macam-macam, universitas. Saya cuma perlu 100.000 saja, ini bukan sedang mengkhayal, berapa angkanya, itu lihat saja, inisial outlinenya 400 juta kalikan USD kalau 100 juta brarti 400 milyar, size pertahunnya 300 milyar, kalau 1.000 berarti 3 triliyun, kalau 10, 100, ini jadi luar biasa.

Intinya apa? Konektivitas. Kesimpulannya, jadi dengan adanya teknologi ini kita terhubung satu dengan yang lain. Tidak bisa kita berjalan sendiri, tidak bisa kita merasa hebat sendiri. Ke depan, perbankan sebentar lagi akan bangkit, untuk daftar bank  tidak perlu datang ke bank lagi. Tinggal buka play store daftar tik tik, 5 menit selesai pendaftaran, dibalas selamat siang kami dari bank, kapan bisa ketemu bapak dimana untuk verifikasi data. Semua sudah pake e-money transfer.

Kalau di TAMZIS apakah sudah bisa? Kalau orang daftar di TAMZIS sudah bisa secara online kemudian dia tinggal cetak terdaftar aplikasi aktif dia tinggal login password apa belum? Bisa lihat saldo Anda sekian, simpanan pokok sekian, sukarela Anda sekian, investasi Anda sekian, bagi hasil Anda sekian. Kemudian ada pilihan produk baru, ada investasi juga, saya pilih masukan 10 juta Rupiah langsung mengurangi saldo. Kalau sudah bisa begitu ini bagus, itu teknologi.

Yang kedua, adalah  big data and activicial intelegent. Subhanallah, datang ke saya orang ahli teknologi. Anda bisanya apa? Bisa big data tidak? memang kerjaan saya ustadz. Activicial intelegent itu robot yang bisa diajak ngomong. Jadi subhanallah kerjaan saya ini Allah luruskan, ayo teman-teman saling bersinergi Anda ahli apa, Anda ahli apa, yuk saling berfikir untuk umat. Kita desain model bisnisnya, tinggal desain model arsitekturnya kemudian kita bagi tugasnya kita lihat untungnya. Kita bagi di depan, harus jelas, jadi tidak ada ribut belakang. Kalau Anda suka buka situs tertentu, maka apa yang Anda lakukan semua terdata. Kalau Anda lupa matikan datanya juga tentang gpsnya orang tahu Anda lagi dimana, itu namanya big data analysis.

Ketiga, adalah security block change artinya data itu diamankan sehingga securitinya harus kuat. Jangan sampai sudah mengumpulkan ratusan data tiba-tiba datanya dihack hilang semua. Jadi security block change bagaimana mengamankan data itu. Kenapa data itu? Karena itulah kekayaan Anda. Kenapa gojek mahal kenapa Gojek dapat suntikan berapa triliyun kenapa Alibaba nyuntik namanya Tokopedia sampai 1 milyar dolar karena berapa data disitu.

Yang terakhir, yang keempat adalah momentum. Saya katakan berkali-kali bahwa 212 ini peristiwa besar momentum besar yang belum terjadi 20 tahun mendatang. Kalau kita manfaatkan ini luar biasa. Hari ini saya sampaikan, ada 4 distruption, ekonomi menurun, politik bergoncang-goncang, ya tahun politik 2018 ada 173 pilkada. Ketiga culture and social distrubtion, ada gegap budaya, sparatism, pribumi non pribumi dan semacamnya akan terjadi. Yang keempat spirituality distruption, lahir undang-undang ormas, dilarang semua, HTI dibubarkan, FPI mau dibubarkan, Islam di tuduh teroris, tapi puncaknya 212, pepatah Cina mengatakan waiji gret dan opportunity, setiap ada masalah ada peluang, siapa yang bisa memanfaatkan momentum ini dia akan muncul, dan feeling saya just only 2 year, 2 tahun saja, Anda bisa memanfaatkan 2 tahun ini akan lahir tokoh-tokoh baru mendatang, momennya sekarang. Tapi kalau tidak bisa dimanfaatkan sekarang hilang. [ir]

Tags

Artikel Terkait

BMT dan UMKM; Cerdas Merencana, Bisnis Jadi Semakin Terarah
    tmz
  • December 19, 2016

BMT (Baitul Maal wat Tamwil)  merupakan lembaga keuangan mikro yang memberikan jasa keuangan seperti tabungan, kredit ...

Menyiapkan TAMZIS Menghadapi Revolusi Teknologi
    tmz
  • December 04, 2018

Oleh: Budi Santoso, SE.   Setiap lembaga penting dalam membuat rencana strategis untuk acuan kinerja dimasa mendatang. ...

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA); Sumber Daya itu adalah Diri Kita
    tmz
  • April 14, 2016

Menurut para ekonom, Indonesia saat ini menduduki peringkat 16 besar dunia dalam pertumbuhan ekonomi. Diprediksikan tahu ...

TAMZIS Reborn, Menghadapi Era Disruptif
    tmz
  • December 04, 2018

Oleh: Ir. H. Saat Suharto Amjad   Menghadapi Era Disruptif Disruptif itu artinya diganggu, kalau misalnya kita cukup ku ...

BMT-BMT Siap Hadapi MEA
    tmz
  • April 14, 2016

Dalam KTT ASEAN di Myanmar November kemarin, Indonesia menjadi perhatian dunia khususnya ASEAN. Presiden Joko Widodo men ...