Menyiapkan TAMZIS Menghadapi Revolusi Teknologi

    Dibaca 73 kali


Oleh: Budi Santoso, SE.

 

Setiap lembaga penting dalam membuat rencana strategis untuk acuan kinerja dimasa mendatang. Hal ini sebagai panduan dalam melangkah sekaligus sebagai alat ukur atas pencapaian-pencapaian kinerja tersebut. Kemudian, yang kedua tentang isu-isu strategis. Tantangan apa yang menjadi problem serta bagaimana cara mengatasinya.

TAMZIS yang berbadan hukum koperasi, sebelumnya perlu kita lihat kembali, kenapa koperasi? Mungkin kalau kita mendengar kata koperasi secara umum bahkan mungkin beberapa dari kita masih merasa, koperasi itu apa sebenarnya? Bisa besar tidak? Yang sering dilihat oleh orang, yang namanya koperasi itu adalah koperasi-koperasi seperti KUD atau KPRI, tapi apa memang seperti itu koperasi?

Ternyata, seperti yang dicontohkan Pak Saat Suharto, bahwa “Campina” itu koperasi, jadi di luar negeri itu justeru koperasi jauh lebih berkembang dan lebih hebat. Padahal mereka tidak punya menteri koperasi. Bahkan koperasi internasional selalu merilis koperasi-koperasi besar tingkat dunia, dan sampai sekarang belum ada satupun koperasi dari Indonesia yang masuk ke jajaran koperasi tingkat dunia. Hal ini menjadi satu tantangan bagi kita, kapan kita memasuki jajaran koperasi tingkat dunia. Memang, koperasi internasional itu ukurannya bukan hanya banyaknya cabang, tapi ada asset, ada omset, kelolaan dan seterusnya.

Kedepan memang akan terus bermunculan fintech yang luar biasa, akan ada peluang dan tantangan bagi kita. Peluangnya karena semua institusi itu sekarang menjadi sama. Perbankan sekarang juga bermasalah dengan fintech, pesaing utama mereka itu fintech bahkan banyak bank yang sudah terkena imbasnya. Salah satu efek fintech itu misalnya, kita sering dapat WA ada sekian ribu karyawan bank yang terpaksa harus dirumahkan, kenapa begitu? Banknya bermasalah tidak? Sebenarnya tidak ada masalah bagi bank, layanan bank itu tinggal diganti saja dari layanan yang semula orang buka tabungan datang ke kantor bank, kemudian mau mengambil juga datang ke bank, beralih menjadi ATM. Orang datang ke ATM kalau mau mengambil, kalau mau setor? Tetap datang, karena ada juga ATM untuk setor. Disinilah peran manusia tergantikan oleh mesin ATM, sehingga ada pengurangan tenaga kerja atau pegawai.

Nah, kita misalnya yang punya rekening di bank, kapan terakhir kali datang ke bank? Sekarang ini sudah jarang sekali orang datang ke bank hanya satu ketika orang datang ke kantor bank, buka rekening setelah itu setoran bisa lewat transfer, lewat mana saja, penarikan? ATM. Atau mau transaksi beli macam-macam pakai online, pake internet banking. Artinya transaksi tidak berkurang, pelayanan bank tidak berkurang yang ada adalah pergantian metode pelayanan yang dulu dilayani oleh orang kemudian dilayani oleh mesin.

Sekarang nasabah melayani diri sendiri itu sudah terjadi, itu sudah terjadi ketika semua sudah dilakukan oleh masing-masing nasabah. Maka dimana kemudian fungsi karyawan?  Semula datang dilayani karyawan, terus dilayani oleh mesin, dan nantinya semua online, saya kira kebanyakan dari kita sudah familiar dengan transaksi online, kalo beli kerudung, sepatu online. Apalagi barang-barang IT jelas online.

Lihat barang, cek spesifikasi dan kualitas bayar 3 hari sampai. Hal itu terjadi, semua perubahan-perubahan terjadi selalu ada dampaknya, sehingga sekarang ini banyak terjadi karyawan bank yang dirumahkan.

Ini dilema, tetapi kembali bahwa kita tidak bisa melawan perubahan itu. Karena jika kita melawan revolusi teknologi, justru akan menggilas kita. Oleh karena itu, kita persiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi revolusi teknologi tersebut.

Kaitannya dengan Visi TAMZIS yang baru, yakni menjadi koperasi utama terpercaya untuk kesejahteraan anggota. Kesejahteraan anggota basisnya pada Al Qur’an, koperasi jangan dibayangkan hanya koperasi kecil saja, bukan seperti itu tapi kita bercita-cita untuk menjadi koperasi tingkat dunia walaupun sekarang baru nasional.

Jadi, apa yang melingkupi kita ke depan ini sesuatu yang harus kita respon, tidak bisa dilawan. Kita betul-betul menyiapkan diri, bukan hanya berkata siap, oleh sebab itu, visi kita rubah, kita harus memiliki visi ke depan kemudian misi-misinya harus kita bangun. Mari kita coba membuat langkah-langkah strategisnya, sesuatu yang besar kalau hanya dipikirkan tidak akan selesai-selesai. Mari visi itu kita jabarkan kemudian nanti dihubungkan lagi sampai pada kegiatan-kegiatan. Jadi kalau ibarat sebuah kendaraan, harus ada gas yang membuat kencang laju kendaraan, tapi di sisi lain juga harus ada rem yang setiap saat siap mengerem.

Gas, ibaratnya kita harus punya mimpi ke depan, punya cita-cita, tetapi bahwa apa yang kita lakukan dengan cita-cita tadi harus dilakukan dengan langkah-langkah. Rem, ibaratya yang menjaga, mengawal, mengerem. Kira-kira begitu, ngerem itu bukan berarti memperlambat sampai tujuan.

TAMZIS kini punya visi baru dengan 5 misi penjelasnya. Setelah kita memiliki visi yang seperti itu apa yang harus kita lakukan? Mari kita tata lagi, karena ada sesuatu yang berubah, misalnya dengan adanya teknologi itu akan terjadi perubahan yang sangat drastis. Misalnya, tentang apa yang disebut strategis? Lokasi lahan yang disebut strategis itu apa? Kalau dulu yang strategis adalah yang pinggir jalan, pasti harganya lebih mahal, bisa buat toko dan macam-macam. Sekarang strategis apa? Apa masih seperti itu? Sekarang ini berubah, karena toko online tidak butuh di pinggir jalan, di tengah kampung juga bisa.

Jadi, nanti tim pembiayaan kalau survey, harga-harga tanah berubah, kalau dulu jarak pinggir jalan dengan belakangnya itu selisihnya banyak sekali karena yang pinggir jalan itu srategis sekali tapi lama-kelamaan kedepan ini akan berkurang selisihnya. Ketika semua sudah jualan online maka jualan yang pinggir jalan yang manual seperti itu mungkin akan berkurang, tidak hilang tapi akan berkurang, itu salah satu contohnya. Yang kedua, tentang tata nilai, internet itu luar biasa, jadi apapun yang kita lakukan, yang memantau bukan hanya pengawas, tetapi banyak orang, bahkan media sosial juga berfungsi untuk memantau.

 

Fungsi Manajemen

Sebenarnya, apa yang kita lakukan setiap akhir tahun adalah proses planning. Planning, kemudian dilanjutkan dengan organizing, staffing, karyawan ditambah, ada pelatihan dan seterusnya. Salah satu fungsi manajemen adalah directing, bukan hanya sebagai petugas kantor cabang saja, kemudian controlling. Sudahkah kita melakukan kontrol? Coba kita bayangkan jika punya 450 karyawan lebih, pengawas adanya hanya 5 atau 7 orang, internal kontrol ada 7 orang, tidak mungkin 7 orang itu ditambah pengawas akan mengawasi 450 orang, maka mau tidak mau, suka tidak suka kita juga harus melakukan pengawasan kepada apa yang sudah dilakukan di kantor cabang.

Kaitannya dengan controlling, salah satu konsen kita bukan hanya perkara pengawasan yang terkait dengan keuangan saja, tetapi juga perilaku, syariah dan seterusnya. Ketika kita membahas rencana strategi, visi dan misi ini dibentuk berdasarkan tata nilai yang ada, misalnya kita sebagai umat Islam dilarang melakukan prakek riba, maisir dan lain sebagainya. Kalau kita tidak ada larangan itu, perlu tidak kita membuat visi misi seperti ini? Tidak perlu. Karena ada nilai-nilai itu, maka ada nilai keberkahan dan sebagainya ditambah dengan isu-isu kritis, isu-isu yang berkembang termasuk teknologi, peraturan pemerintah dan seterusnya, maka dibuatlah sebuah visi.

Visi dan misi ini kalau dilihat dari rentang waktunya untuk 3 sampai 5 tahun kedepan. Jadi visi itu kita bercita-cita, ini terbatas. Makanya, visi perlu dirubah. Karena visi misi itu rentangnya 3 sampai 5 tahun. Bahkan kalau perusahaan-perusahaan teknologi bisa lebih cepat lagi perubahannya karena kalau tidak begitu, justru tidak berkembang dan ketinggalan. Contohnya, perusahaan besar Nokia saja bisa kolaps dan sekarang ini banyak perusahan besar yang bermasalah dengan kemajuan teknologi. Kalau kita lihat di Indonesia, perusahaan yang dulu jaya tapi sekarang sudah tidak terlalu kelihatan atau mungkin masih ada tapi tidak berkembang. Surat menyurat misalnya, anak-anak kita mungkin ditanya perangko tidak tahu. Tapi ada juga perusahan-perusahan yang bisa tumbuh? Karena tidak bisa dionlinekan, ketika tidak bisa dionlinekan, bisa didigitalisasi maka dia akan tetap bertahan. Misalnya, bisnis pengiriman barang.

Spent of control ini kaitannya berapa jumlah anak buah yang harus kita miliki, ada batasannya. Pemisahan pelaksanaan dan pengawasan, jadi ini kenapa ada marketing, administrasi, ada fungsi pengawasan, pelaksanaan, masing-masing harus jalan.

Staffing ini mulai dari rekruitmen, manajemen reward karir sampai pensiun. Cuma apa yang kita lakukan ini agak berbeda dengan generasi yang sekarang, kalau menurut berbagai survey generasi sekarang justru tidak mau menetap dalam satu perusahaan terutama di Jakarta, kalo di daerah masih belum. Ketika orang cenderung tidak mau menetap pada satu perusahaan untuk apa kita buat program pensiun?

Directing, kita harus tahu apa yang harus dilakukan, harus mengarahkan, bahkan “mendorong” tapi harus tahu aturan-aturan yang ada. Ada pembinaan, ada kursus, ini yang saya kira perlu dikembangkan. Anda punya tanggung jawab untuk melakukan pembinaan pada staffnya.

 

Keutamaan Akhlak dan Fintech

Misi yang pertama, membina keutamaan akhlak. Kenapa akhlak? Bahkan Nabi diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia, akhlak sesuatu yang penting sekali. Membina keutamaan akhlak, satu menginternalisasi budaya LIFE, LIFE di TAMZIS menjadi budaya kerja. Hal ini juga harus kita dakwahkan, sampaikan kepada masyarakat dan anggota. Sebagai budaya LIFE, ada Learning, Integrity, Friendliness dan yang terahir adalah Endurance/ daya tahan. Orang kalau mau berdakwah harus ada daya tahannya.

Namun, beberapa tidak tahan terhadap tantangan dakwah, namanya dakwah tantangannya luar biasa, enak sekali kalau dakwah langsung berhasil. Seperti marketing menawarkan sekali tidak bisa, dua kali, tiga kali seterusnya sampai berhasil. Endurance adalah daya tahan, kita juga begitu, kita punya konsep, keinginan tapi tidak punya daya tahan. Kalau ada tantangan sedikit saja mundur, takut tanggung jawab mundur. Dua, meningkatkan akhlak dengan berekonomi. Tiga, meningkatkan akhlak bersosial. Terakhir, mewujudkan akhlak utama dalam  keluarga.

Sering menjadi persoalan diperbankan, bahkan perbankan yang sistemnya sudah sangat kuat sangat maju pun itu juga sering bermasalah, masalah utamanya ternyata pada moral dan akhlak. Kalau kita baca berita atau lihat di TV sudah banyak kasus-kasus yang demikian. Dari banyak kasus penggelapan di perbankan, kesimpulan terakhirnya selalu melibatkan orang dalam. Jadi, kenapa moral menjadi  sangat penting sekali, karena bank sehebat apapun sistemnya, pengawasannya canggih, tetap saja bisa dibobol.

Misi yang kedua, menggembirakan dan memudahkan anggota mengembangkan kegiatan ekonomi produktif. Ekonomi produktif ini kemarin jadi perdebatan juga, bagaimana dengan pembiayaan-pembiayaan yang sekarang sedang digalakkan terkait dengan pembiayaan konsumtif, orang mau beli motor, HP dan lainnya. Kegiatan ekonomi produktif ini kita tafsirkan menjadi 2 hal, jadi yang namanya produktif ada 2, satu dari sisi pendapatan, dua dari sisi biaya. Maka pembiayaan konsumtif itu tidak masalah, diperbolehkan, tapi sejauh bahwa pembiayaan konsumtif tadi tidak menyebabkan seseorang berbuat korup, sehingga disitu perlu ada kelayakan. Misalnya, ini orang dengan gaji sekian, 5 juta Rupiah, dia mau beli HP yang seharga 2 juta Rupiah, sepintas layak tidak? Layak ya, tapi kalo kemudian dia mengajukan pembelian Innova, konsumtif kan, yang seperti itu yang tidak diperbolehkan, karena kita mengajarkan hidup boros.

Makna menggembirakan ini berarti kita aktif, ini yang melandasi kita ke depan untuk mengembangkan  mendorong usaha-usaha baru startup, tentu saja kita lihat step-stepnya tidak kemudian nanti semua cabang membuat pembiayaan untuk usaha baru. Usaha baru itu kan tidak ada sejarahnya, tentu saja resikonya besar, boleh tapi berapa persen jangan kemudian 50% usaha pembiayaannya baru semua ini resikonya besar, tetap harus melakukan proses kelayakan. Pada dasarnya, produktifitas angggota itu ada dua hal, yakni bagaimana bisa menekan biaya dan meningkatkan pendapatan.

Selanjutnya, mendorong usaha anggota berbasis online. Karena memang tidak bisa kita lawan. Ini juga perlu hati-hati, kadang-kadang salah sasaran juga, maksudnya kalau ada usaha anggota kita punya warung bakso, kita koneksikan dengan gojek misalnya, supaya masuk ke gofood sehingga nanti orang bisa pesan bakso tersebut melalui gofood. Oleh karena itu, kita berperan aktif, dengan begitu akan meningkatkan omset anggota kita. Bisnis online merupakan sesuatu yang tidak bisa kita lawan, bahkan setingkat supermall pun gulung tikar, bahkan minimarket pun sekarang ikut-ikutan online juga, karena kalau tidak ikut online bisa kolaps juga.

Misi yang ketiga merupakan misi internal kita TAMZIS sebagai sebuah perusahaan, misi ketiga dibagi menjadi 3 juga, satu terkait dengan kelembagaan, dua terkait dengan karyawan, tiga terkait dengan jaringan usaha.

Satu, kelembagaan ini menjadikan TAMZIS sebagai koperasi yang sehat, tolak ukurnya dari sisi keuangannya sehat, sistem keamanan. Apalagi nanti kita bertransaksi secara online, digital itu juga harus luar biasa keamanannya, makanya kemarin tim IT ikut seminar tentang hacker, jangan sampai nanti sistem kita dihack.

Untuk akreditasi ada dua, akreditasi dari Perhimpunan BMT Indonesia, IMS (Islamic Microfinance Standar), yang kedua ISO. Lalu, TAMZIS sebagai koperasi yang besar. Tercapainya pertumbuhan asset, tercapainya penguatan dan peningkatan jumlah anggota. Ke depan, ada pergeseran bahwa fokus kita sekarang ini coba ditekankan pada person, pada orang, termasuk pada pembiayaan, tadinya  by product. Sekarang kita fokus pada person, maka kalau ada orang itu layak, pedagang pasar misalnya, orang ini layak, ketika dia butuh beli HP, tidak masalah, jangan karena dia pedagang, maka kita biayai dengan mudharobah untuk usaha saja. Fokusnya pada orang, kelayakan orang, sudah ada data dan sejarahnya orang tersebut.

Nomor dua, tumbuh dan kuatnya jaringan layanan. Saya berfikir kalau kita membuka tiga kantor cabang atau bahkan lima di Jawa, itu sesuatu yang biasa. Coba yang luar biasa, tiga tidak apa-apa, tapi yang dua di luar Jawa. Karena, ingat pada saat kita membuka kantor di Jakarta ternyata yang tumbuh bukan hanya di kantor Jakarta, cabang-cabang kita yang ada di seluruh cabang TAMZIS itu ikut tumbuh, karena waktu itu ada brosur cabang Jakarta. Semangat kita juga tumbuh, kepercayaan masyarakat juga tumbuh. Sekarang sudah waktunya, dulu Jakarta tahun 2007, 10 tahun di Jakarta, 10 tahun berikutnya insyaAllah di luar Jawa.

Di luar Jawa itu potensinya banyak sekali, bagaimana kalau kita tidak punya semangat untuk berdakwah keman-mana. Islam itu tidak akan sampai ke pulau Jawa kalau semua orang tidak mau keluar untuk berdakwah, toh dakwah di Jawa juga masih luas, lha kalau semua orang Arab berpikir begitu, dakwah di Arab juga masih luas kenapa sampai Nusantara, kalau berpikir begitu Islam tidak akan sampai. Dakwah ekonomi syariah sampai Papua juga bisa.

Pertumbuhan jaringan saya kira belum kita pikirkan, karena ini nanti merupakan kekuatan kita. Ketika fintech sudah jalan, orang akan menggunakan apa, sekarang tawaran fintech banyak sekali, orang mau pakai yang mana. Nah, disitu letaknya, ketika kita sudah punya jaringan kita bisa mempersuasi orang untuk menggunakan jaringan yang kita miliki. Sementara belum, tapi kalau kita sudah punya jamaah atau jaringan itu akan menjadi nilai lebih bagi kita.

Mewujudkan TAMZIS sebagai koperasi yang bermanfaat, tersedianyan produk-produk yang sesuai dengan kebutuhan anggota. Misalnya, di Jakarta perumahan, perumahan sudah ada, tapi kurang panjang jangka waktunya, nanti dikaji ulang kira-kira seperti apa. Kedepan kita harus aktif dan memberikan masukan agar apa yang kita lakukan tepat. Kemudian koneksi anggota, kita bertumpu pada orang, pada anggota.

Terakhir, yang baru dari visi kita adalah jaringan usaha. Jadi kita akan membangun satu jaringan usaha, kenapa, kalau ini tidak kita lakukan tidak akan tahu ke depan TAMZIS apakah akan menggunakan financial teknologi yang setiap anggota itu kita kasih HP atau platfrom App di HPnya untuk bertransaksi. Jadi nanti kalau anggota TAMZIS mau transaksi dia tidak perlu datang ke kantor. Kalau seperti itu nanti kolektornya berkurang, marketing berkurang, kita harus persiapkan. [ir]

Tags

Artikel Terkait

BMT dan UMKM; Cerdas Merencana, Bisnis Jadi Semakin Terarah
    tmz
  • December 19, 2016

BMT (Baitul Maal wat Tamwil)  merupakan lembaga keuangan mikro yang memberikan jasa keuangan seperti tabungan, kredit ...

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA); UMKM Sehat, Daya Saing Kuat
    tmz
  • April 14, 2016

Menurut laporan World Economic Forum (WEF) melalui The Global Competitiveness Report 2014-2015, daya saing global Indone ...

Membangun Sharing Economy Berbasis Masjid
    tmz
  • December 04, 2018

Oleh: Valentiono Dinsi   Membangun dan memperkuat komunitas di era revolusi teknologi lebih tepatnya di era revolusi di ...

Perencanaan Keuangan itu Mendidik Masyarakat Naik Kelas
    tmz
  • April 14, 2016

Perencana keuangan itu ibarat lampu lalu lintas, bila hijau tanda berjalan. Warna kuning tanda pelan-pelan dan waspada s ...

TAMZIS Reborn, Menghadapi Era Disruptif
    tmz
  • December 04, 2018

Oleh: Ir. H. Saat Suharto Amjad   Menghadapi Era Disruptif Disruptif itu artinya diganggu, kalau misalnya kita cukup ku ...